/* Start http://www.cursors-4u.com */ body, a:hover {cursor: url(http://cur.cursors-4u.net/anime/ani-12/ani1155.ani), url(http://cur.cursors-4u.net/anime/ani-12/ani1155.gif), progress !important;} /* End http://www.cursors-4u.com */ Luffy Stretching Arms

Pages

right under or

Sunday, May 5, 2013

Yakin dengan Keputusan, Membuat Hatiku Terasa Perih



Kembali aku menoleh ke belakang. Tidak ada siapa-siapa. Mungkin perasaanku saja, ujarku dalam hati. Ku lirik jam tangan ku yang menunjukan jam setengah 6 sore, pantas keadaan parkiran sudah sepi. Hanya ada beberapa motor yang masih setia menunggu majikannya untuk pulang. Aku sendiri baru selesai dari ekskul ku yaitu PASMUNSA. Sebenarnya belum selesai, hanya saja aku izin pulang lebih awal. Mood ku dari tadi pagi sedang tidak bagus, ditambah cuaca hari ini yang selalu mendung.

Aku tersenyum ketika melihat motor kesayangan ku dari kejauhan. Waktunya pulang, batinku lirih. Kulangkahkan kaki menuju motor matic ku. Tak sampai 5 langkah, aku menghentikan langkah ku. Mereka benar-benar lupa… Rasanya aku ingin menangis saja. Kenapa mereka semua bisa lupa hari ulang tahun ku? Bahkan Hafidz pun juga tidak ingat. Aku sengaja tidak mengatakan apa-apa kepada mereka tadi pagi. Aku masih menunggu hingga mereka sadar, bahwa temannya yang satu ini sedang merayakan hari kelahirannya. Tapi, segitu buruk kah ingatan mereka? Ingin sekali aku berteriak di parkiran ini.

Dengan kesal, aku berjalan secepat mungkin menuju motorku. Lebih baik pulang, tiduran di kamar sambil membaca novel. Lupakan hari ulang tahun ku!! Namun langkah itu mulai terdengar kembali. Siapa? Apakah penguntit? Tanpa sadar aku mulai sedikit berlari, dan langkah itu pun juga terdengar sedang berlari mengejarku. Tunggu. Kenapa aku mendengar langkah kaki banyak orang? Jangan-jangan aku akan dikeroyok. Oh tuhan, lindungilah aku.

Karena penasaran, ku beranikan diriku untuk menoleh ke belakang secepat mungkin, melihat apa yang terjadi sebenarnya. Dan sedetik kemudian aku merasa butiran-butiran putih mengenai seluruh tubuhku. Lalu disusul dengan cairan kuning mengenai rambutku. “Happy Birthday Agnes,” ujar mereka serempak lalu tertawa terbahak-bahak.

Kulihat Sonia, Della, dan Icha sedang membawa sisa-sisa tepung, yang tentu saja juga mengenai baju mereka walau tidak sebanyak aku. “Oh shiiitt.. Kalian gila apa?” teriakku kesal walau hati kecil ku merasa senang. Senang karena mereka ingat aku.

“Ya ampun, gitu aja ngambek. Sini gue kasi lagi,” Adhyt lalu melemparkan telur ke kepala ku dan semua kembali tertawa. Aku hanya bisa menunduk, membiarkan cairan kuning itu jatuh ke tanah. Dan tidak lama kemudian aku melihat Angga membawa seember air. Buru-buru aku lari, namun ditahan oleh Sonia dan Icha. Dan jadilah kami bertiga terkena air.

“Ya Angga, kenapa gue jadi kena sih? Ini kan air bekas pel Pak Nubi. Sialan lo!” rengek Sonia lalu melempar tepung yang tersisa kearah Angga. Angga pun mencoba untuk menghindar. Aku tertawa melihat mereka. Mereka bener-bener pasangan yang serasi.

Dan entah dari mana, Della tiba-tiba membawa blackforest yang berisi angka 16 kehadapan ku. “Make a wish dulu donk, Nes.”

Aku mulai memejamkan mata untuk berdoa. Ku buka mata secara perlahan sambil menatap satu persatu teman sekelas ku di X6. Sonia, Angga, Icha, Della, Adhyt, dan.. “Hafidz mana?” tanya ku polos.

Kulihat raut wajah mereka berubah. Lalu Icha menyela, “Hafidz lagi nganter Tari ke toko buku. Lo tau lah Tari, ee.. dia anak baru,” Kulihat Icha sejenak ragu-ragu. “Bu Sepka tadi nyuruh Hafidz buat nemenin Tari beli buku pelajaran.”

“Oh,” Hanya itu kata yang keluar dari mulut ku. Kupaksakan untuk tersenyum. Melihat perubahan ekspresiku, Adhyt yang memang terkenal jahil mulai melumuri wajahku dengan krim yang ada di kue, lalu disusul oleh Icha. Tak mau kalah, aku langsung membalasnya. Selang beberapa menit, kami berenam sudah menjadi badut amatiran yang wajahnya dipenuhi krim.
***
Hafidz . Nama yang sudah tak asing lagi di telinga ku. Selain letak rumah yang bersebelahan, kami juga selalu satu sekolah bahkan sekelas. Dimana ada Hafidz, selalu ada aku. Aku seperti menemukan sosok kakak di dalam diri Hafidz, karena aku sendiri anak bungsu yang tinggal sama ortu setelah saudara-saudaraku telah memiliki keluarga masing-masing. Menjadi anak bungsu memang mengasyikan. Semua perhatian Mama dan Papa tercurah untuk ku. Namun hidup bungsu tanpa saudara di rumah juga sangat menyedihkan malah membosankan. Tapi, selama ada Hafidz yang selalu disamping ku, hidup menjadi anak bungsu yang tinggal sendiri seperti anak tunggal tidak masalah.

Sejenak aku memejamkan mata, mencoba mengingat kejadian tadi sore. Yang terlintas dibenak ku hanya lah Tari. Murid pindahan yang seminggu terakhir mencuri perhatian teman-teman sekelas. Ya, dia cantik dan modis. Dan tak butuh waktu lama, aku yakin Tari akan menjadi salah satu deretan siswi populer di SMA Negeri 1 Curup.

Aku kembali membuka mata. Kulirik foto yang terpajang manis di meja belajarku. Foto dua anak SD yang sama-sama membawa balon. Aku masih ingat, saat itu hari ulang tahun Hafidz yang ke-10. Mama Hafidz atau biasa ku panggil Tante Nana ngotot untuk menggambil foto kita berdua. Untuk kenang-kenangan katanya.

Alunan lagu Only Hope milik Mandy Moore terdengar dari meja belajarku. Dengan malas aku bangkit dari tempat tidur. Siapa sih yang nelpon malam-malam? Dengan kesal ku tekan salah satu tombol di HP, tanpa melihat nama yang tertera di layar. “Halo,” sapaku enggan.

“Akhirnya diangkat juga. Nes, buruan ke balkon sekarang.” ujar seseorang yang aku kenal. “Jangan lupa pakek jaket, dingin banget disini. Gue tunggu, Nes.”

Belum sempat aku menjawab, telepon sudah di tutup. Sialan Hafidz. Aku yang masih binggung atas ucapanya buru-buru membuka lemari mencari jaket tebalku. Tak butuh waktu lama, aku sudah berdiri di balkon kamarku yang bersebelahan dengan balkon kamar Hafidz. Kamar ku dan kamar Hafidz sama-sama ada di lantai atas.

“Lo belum tidurkan?” tanya Hafidz dari balkonnya. Ku lihat Hafidz menggunakan kemeja putih dan celana jeans hitam yang membalut tubuh atletisnya. Sepertinya ia baru pulang.

“Belum lah, masih jam 9 juga. Lo sendiri baru pulang?”

“Iya. Tadi gue nganter Tari beli buku. Capek banget, Nes. Nggak nyangka kalo si Tari suka baca novel sama kayak lo.“ Ku lihat Hafidz tersenyum gembira. Belum pernah aku melihat ia sebahagia ini. Lalu ia menceritakan kejadian-kejadian yang lucu di toko buku. Aku hanya menanggapi dengan kata-kata singkat seolah aku menyimak cerita Hafidz. Walau sebenarnya aku tidak mendengarkan apa-apa.

Ada sesuatu yang mengganjal. Aku menerawang ke bawah melihat jalanan, yang tentu saja sepi. Jalan di kompleks perumahan kan tidak seramai jalan raya.

“Nes? Halo… Agnes? Agneeesss… Lo denger nggak sih?” Panggilan Hafidz membuyarkan lamunan ku.

“Apa? Eh maksud gue, gue denger kok,” ucapku terbata-bata.

Hafidz mendengus. “Gue tau lo nggak denger omongan gue. Lo lagi mikirin apa sih?

“Kita balik ke setahun yang lalu ya?” ujarku tiba-tiba.

Hafidz terlihat bingung.

“Kita pacaran sampai sini aja. Lagian lo sama gue lebih cocok buat sahabatan. Entah kenapa gue rindu Hafidz yang dulu. Hafidz yang selalu ngejek gue jelek, Hafidz yang selalu bandingin gue sama cewek-cewek populer waktu SMP, sampai Hafidz yang selalu bangunin gue kalo gue telat bangun. Semenjak kita pacaran, rasanya ada yang berubah dalam diri kita.” Sejenak aku memejamkan mata untuk mengatur emosi. “Lo mau kan kalo kita sahabatan lagi?” tanya ku ragu.

Ku lihat Hafidz terkejut mendengar ucapanku. Biarlah. Jujur, setelah aku dan Hafidz pacaran, aku melihat perubahan sikap diantara kami. Seolah-olah ada tembok besar disekitar kami. Kami tidak dapat tertawa lepas seperti dulu saat SMP. Selalu ada sesuatu yang mengikat, mengingatkan bahwa kita tidak hanya berteman. Suatu komitmen yang bernama pacaran. Tapi aku sadar semenjak Tari masuk ke kelasku, aku merasa Hafidz tertarik pada gadis itu. Dan itu membuat aku muak. Aku kangen sama Hafidz, teman kecil ku.

“Kalo itu mau lo, gue terima. Asalkan kita bisa sahabatan lagi kayak dulu. Jangan gara-gara masalah ini, kita jadi diem-dieman.” ujar Hafidz lirih.

“Ya udah, gue duluan balik ke kamar ya. Dingin banget disini.”

Belum sempat aku melangkah, Hafidz sudah menahanku dan menyuruhku menangkap sesuatu yang dilemparnya. Untung kali ini aku bisa menangkapnya dengan tepat.

“Happy birthday Agnes. Maunya ngucapin satu tahunan kita jadian. Tapi kita kan baru aja putus. Gue doain semoga persahabatan kita langgeng sampai tua nanti.”
 
Aku hanya tersenyum lalu buru-buru masuk ke kamar. Ku hempaskan diriku ke tempat tidur. Perlahan kubuka hadiah Hafidz yaitu sebuah kotak kecil bermotif strawberry, buah kesukaan ku. Dalam kotak terdapat kalung berbandul separuh hati dan sebuah kertas kecil.
“Happy birthday peri kecilku dan happy 1st anniversary buat hubungan kita.
PS : Moga lo seneng ama tu kalung

Kurasakan butiran kristal jatuh dari pelupuk mataku, buru-buru aku hapus dengan tangan. Namun semakin aku berusaha, butiran itu semakin banyak. Ya Tuhan… Aku yakin akan keputusan ku. Tapi kenapa hati ku terasa perih?

Malam semakin larut. Namun seseorang masih terpaku, terdiam di balkon kamarnya sambil menatap balkon yang baru saja di tinggal pergi oleh pemiliknya. Pemilik yang bernama Agnes Tria Susanti. Teman kecilnya.
***
“Agneeess……!”

“Saya Pak! Saya Pak!” teriakku tak karuan. Mata ku mencoba melihat sekililing. Menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi. Tapi, ini kan kamarku? Lalu…

“Ouch shittt! Gue kira apa. Gila lo, Fidz. Ngapaen lo disini?” ujar ku kesal. Ku tarik selimut untuk menutupi tubuhku. Berniat melanjutkan mimpi ku yang tertunda gara-gara teriakan mahluk aneh ini.
Hafidz tertawa. “Ya ampun, dasar putri tidur. Buruan lo bangun, ini udah jam 10 pagi. Masa cewek males gini?” Hafidz menarik selimut ku lalu ditaruhnya di sofa.

“Hafidz!! Selimut gue balikin. Lagian ngapain juga bangun pagi? Ini tuh masih LIBURAN. Tahun ini kita kelas tiga, pasti belajar mulu kerjaannya. Kasi donk gue nikmatin liburan gue.” Jelas ku panjang lebar.

Ku dengar tawa Hafidz makin keras, seolah-olah mengganggu tidurku adalah hal terlucu di dunia ini. Aku hanya bisa pasrah. Beberapa bulan telah berlalu sejak hari itu. Hari dimana aku putus dengan Hafidz. Seperti yang kuduga, setelah kejadian itu hubungan kami kembali seperti SMP dulu. Dimana kami sering mengejek satu sama lain. Hafidz kembali pada hobby-nya yang senang melihat aku menderita. Dan aku kembali pada hobby lama ku, sering merecoki dia dengan kalimat panjang lebar.

“Cerewet banget sih,” rutuk Hafidz. “Buruan lo mandi, kita ke toko buku sekarang. Hari ini terakhir diskon lho. Katanya mau cari novel?” Aku melirik sebal kepadanya. Hafidz menghampiri aku, lalu dengan gemas Hafidz mengacak-acak rambut ku.

“Bilang aja lo mau beli komik. Pakek alasan gue beli novel lagi. Muna lo! Dari mana lo tau kalo diskonnya masih?” Kata ku sambil merapikan rambut ku yang berantakan.

“Icha yang ngasi tau. Terserah mau percaya atau nggak. Yang penting lo buruan mandi.” Lalu Hafidz pergi ke arah meja belajar untuk melihat koleksi novelku. Aku terkadang heran dengan Hafidz. Untuk ukuran cowok tinggi yang jago main basket, masa sih dia masih doyan baca komik. Apalagi komik favoritnya Detektif Conan. Benar-benar deh si Hafidz.

“Hafidz cakep, dengerin gue ya. Gue sih udah dari tadi mau mandi. TAPI GIMANA CARANYA GUE MANDI KALO LO MASIH BERKELIARAN DI KAMAR GUE???” Dan tak butuh waktu lama, bantal-bantal di tempat tidurku sudah melayang ke wajah Hafidz. Kulihat Hafidz mencoba menghindar dari serangan bantal-bantal sambil tertawa, lalu keluar dari kamarku.

Dilihat dari mana pun, kami memang hanya cocok untuk sahabatan. Setidaknya untuk saat ini. Aku tersenyum dan beranjak pergi dari tempat tidurku. Bersiap-siap untuk pergi ke tempat favorit kami. Dimana lagi kalo bukan toko buku. :D
***

Just Be Yourself, Ness..



"Ga perlu jadi yang lain Agnes.. Just be yourself okey"
***
Hay, nama gue
Agnes Tria Susanti. Tapi, walaupun begitu, nama gue ga sebagus kelakuan gue, gue sekolah di SMA SMA Negeri 1 Curup, disekolah gue terkenal sebagai cewek yang tomboy, males, bahkan jarang banget ada cowok yg mau jadi pacar gue-_-ya tapi bersyukurlah gue punya kaka2an yg menerima penampilan gue gini. Namanya, Hafidz, bisa dibilang dia itu palingggg deket sm gue. Semakin hari Gue semakin deket sama Hafidz, sampai saatnya ada siswi baru di kelas gua, Icha.. Dia itu cewek feminin, tapi juga cewek modus.. Dia selalu ngejek gua karena penampilan gua yg tomboy

Di kelas hari ini pelajaran lagi kosong, guru yang ngajar gak masuk. Dan di saat itu juga
Icha ngumumin didepan kelas, "Temen-Temen Besok dateng ya ke rumah gue, ada party ulang tahun guee jam 7 malem. Jangan sampe gak dateng, apalagi.. elo Agnes, pake baju yg cewek bgt yaa." Umumnya sambil tersenyum sinis sama gue. Gue pun sampai dirumah. Dikamar gue langsung bercermin, 'Emang bener gue terlalu tomboy?' Batin gue. Pada besoknya, gue berusaha dandan secantik mungkin buat party nya Icha, gue denger dia juga ngundang Hafidz. Jujur, gue gabisa nahan perasaan gue setahun ini sama dia.. Hafidz. Gue suka sama dia, bahkan saat gue tau dia udah punya pacar gue cemburu berat. Tapi, beruntunglah Hafidz sekarang jomblo, jadi banyak kesempatan gue gitu:D

Gue bakal mastiin, malam ini jam 7, bakal jadi cewek tercantik demi
Hafidz. "It's time to Makeover Agnes!! Cayooo" kata gue dengan semangat 45. Malampun tiba, gua segera pergi kerumah Icha. Sesampai nya orang orang yang ada disana ngeliat gue dari atas sampe bawah, sambil nahan tawa. "Wow, Amazing! Style apanih Nes? Lipstick belepotan, Rambut kuncir kuda, terus make baju heboh begini? Lo kira party gue ini apa? Iya gak Gha" cetus Icha, sambil menggandeng mesra Hafidz... "Agnes.. Elo.." Hafidz pun ikut ikutan gagap. Tanpa sadar gue nangis dan ninggalin party itu, pada saat keadaan hujan deres, gue berlari kuat kuat, sampai akhirnya gue berhasil keluar dari rumah Icha.. "Arrgghh!!!!!! Segini begonya gue?!!!"

"KENAPA GUE RELA BANGET JADI BEGINI, CUMA DEMI ORANG YANG ANGGEP GUE GA LEBIH DARI SEORANG ADIK!!!!!" Teriak gue, sambil menghapus lipstick, dan cemong make up yg gue buat dibawah deresnya hujan. "
Agnes!! Ness..". Gue denger teriakan itu, Hafidz nyari gue.. Gue berbalik badan dan tepat menemukan Hafidz yg sekarang berada di hadapan gue. "Buat apa lo nyusul gue, Fidz? Gue cuma pengen jadi cewek yg cantik dimata lo.. Karena gue suka sama lo" kata gue dengan jujur. "Agnes, gue suka sama lo .. Just be yourself, Agnes. Gue suka lo yang tomboy, apalagi waktu lo main basket." Mendengar kata kata yg dilontarin sama Hafidz.. Mendadak gue langsung meluk dia. "Gak perlu jadi yg lain Agnes"

"Lo bener
Fidz?" Tanya gue sama Hafidz. "Iyaa bawel:D" kata Hafidz sambil menarik hidung gue. "eh, sakit!-_-udah ah dingin gue nihh ujan ujanan". "Nih, pake ya" katanya sambil ngasih jaketnya.

Thursday, April 25, 2013

Sahabat Terbaik :')


“Sahabat selalu ada disaat kita membutuhkannya, menemani kita disaat kita kesepian, ikut tersenyum disaat kita bahagia, bahkan rela mengalah padahal hati kecilnya menangis…”
***

Bel istirahat akan berakhir berapa menit lagi. Aku harus segera membawa buku tugas teman-temanku ke ruang guru sebelum bel berbunyi. Jabatan ketua kelas membuatku sibuk seperti ini. Gubrak…. Buku-buku yang dibawaku jatuh semua. Orang yang menabrak entah lari kemana. Jangankan menolongku, meminta maaf pun tidak.

“Sial! Lari nggak pakek mata apa ya...” rutukku. Dengan wajah masam aku mulai jongkok untuk merapikan buku-buku yang terjatuh. Belum selesai Aku merapikan terdengar langkah kaki yang datang menghampiriku.

“Kasian banget. Bukunya jatuh semua ya?” cemoh seorang cowok dengan senyum sinis. Sejenak Aku berhenti merapikan buku-buku, Aku mencoba melihat orang yang berani mencemohku. Ternyata dia lagi. Cowok berpostur tinggi dengan rambut yang selalu berantakan. Sumpah! Aku benci banget sama cowok ini. Seumur hidupku nggak bakal bersikap baik sama cowok yang ada di depanku ini. Lalu Aku mulai melanjutkan merapikan buku tanpa menjawab pertanyaan cowok tersebut.

Cowok tinggi itu sepintas mengernyitkan alisnya. Dan kembali ia tercenung karena cewek di depannya tidak menanggapi. Biasanya kalau Aku terpancing dengan omongannya, perang mulut pun akan terjadi dan takkan selesai sebelum seseorang datang melerai.

Teeeett… Bel tanda berakhirnya jam istirahat terdengar nyaring. “Maksud hati pengen bantu temen gue yang jelek ini. Tapi apa daya udah keburu bel. Jadi sori nggak bisa bantu.” ucap cowok tersebut sambil menekan kata jelek di pertengahan kalimat.

Cowok tersebut masih menunggu reaksi cewek yang ada di depannya. Tapi yang ditunggu tidak membalas dengan cemohan atau pun ejekan. “Lo berubah.” gumam cowok tersebut lalu berbalik bersiap masuk ke kelasnya. Begitu cowok itu membalikkan badannya, Aku yang sudah selesai membereskankan buku mulai memasang ancang-ancang. Dengan semangat 45 Aku mulai mengayunkan kaki kananku kearah kaki kiri cowok tersebut dengan keras.

“Adooooww” pekik cowok tersebut sambil menggerang kesakitan.

“Makan tuh sakit!!” ejekku sambil berlari membawa buku-buku yang tadi sempat berserakan. Bisa dibayangkan gimana sakitnya tuh kaki. Secara Aku pakek kekuatan yang super duper keras. Senyum kemenangan menghiasi di wajah cewek tinggi kurus tersebut.
***

“Agnes….”

Aku menoleh untuk melihat siapa yang memanggilku. Ternyata dari kejauhan Bella teman baikku sejak kecil sedang berlari kearahku. Dengan santai Aku membalikkan badanku berjalan mencari Bella di keramaian. Masih celingak-celinguk mencari, Bella malah menjitak kepalaku dari belakang.

“Woe Nes, budeg ya? Nggak denger teriakan gue. Temen macem apaan yang nggak nyaut sapaan temennya sendiri.” ucap Bella dengan bibir monyong. Ciri khas cewek tersebut kalo lagi ngambek.

“Sori deh Bel. Gue lagi bad mood, pengen cepet pulang.”

“Bad mood? Jelas-jelas lo tadi bikin gempar satu kelas. Udah nendang kaki cowok ampe tuh cowok permisi pulang, nggak minta maaf lagi.” jelas Bella panjang lebar.

“Hah? Sampe segitunya? Kan gue cuma nendang kakinya, masak segitu parahnya?” Agnes benar-benar nggak nyangka. Masa sih keras banget? Tuh cowok ternyata bener-bener lembek, pikirku dalam hati.

“Nendang sih nendang tapi lo pakek tendangan super duper. Kasian Iqbal lho.”

“Enak aja. Orang dia yang mulai duluan.” bantahku membela diri.

Sejenak Bella terdiam, lalu berlahan bibirnya tersenyum tipis. “Kenapa sih kalian berdua selalu berantem? Masalahnya masih yang itu? Itu kan waktu awal masuk SMP. Dulu banget. ” ujar Bella polos, tanpa bermaksud mengingatkan kejadian yang lalu. “Lagi pula gue udah bisa nerima kalo Iqbal nggak suka sama gue.”

“Tau ah gelap!”
***

Bel pulang berbunyi nyaring bertanda jam pelajaran telah usai. Cuaca yang sedemikian panas tak menyurutkan niat para siswa SMP Negeri 01 Lebong Selatan untuk bergegas pulang ke rumah. Aku sendiri sudah membereskan buku-bukuku. Sedangkan Bella masih berkutat pada buku catatanya lalu sesekali menoleh ke papan tulis.

“Makanya kalo nulis jangan kayak kura-kura.” Dengan gemas Aku menjitak kepala Bella. “Duluan ya, Bel. Disuruh nyokap pulang cepet nih!” Bella hanya mendengus lalu kembali sibuk dengan catatanya.

Saat Aku membuka pintu kelas, seseorang ternyata juga membuka pintu kelasku dari luar. “Eh, sori..” ucapku kikuk. Tapi begitu sadar siapa orang yang ada di depanku, Aku langsung ngasi tampang jutek kepada orang itu. “Ngapaen lo kesini? Masih sakit kakinya? Apa cuma dilebih-lebihin biar kemaren pulang cepet? Hah? Jadi cowok kok banci banget!!!”

Jujur Iqbal udah bosen kayak gini terus sama Aku. Dia pengen hubungannya dengan Aku bisa kembali seperti dulu. “Nggak usah cari gara-gara deh. Gue cuma mau cari Bella.” ucap Iqbal dingin sambil celingak celinguk mencari Bella. “Hey Bel!” ucap Iqbal riang begitu orang yang dicarinya nongol.

“Hey juga. Jadi nih sekarang?” Bella sejenak melirik Agnes. Lalu dilihatnya Iqbal mengangguk bertanda mengiyakan. “Nes, kita duluan ya,” ujar Bella singkat.

Aku hanya benggong lalu dengan cepat mengangguk. Dipandangi Bella dan Iqbal yang kian jauh. Entah kenapa, perasaanku jadi aneh setiap melihat mereka bersama. Seperti ada yang sakit di suatu organ tubuhku. Biasanya Iqbal selalu mencari masalah denganku. Namun kini berbeda. Iqbal tidak menggodaku dengan cemohan atau ejekan khasnya. Iqbal juga tidak menatapku saat ia bicara. Seperti ada yang hilang. Seperti ada yang pergi dari diriku.
***

Byuuurr.. Fanta rasa stowberry menggalir deras dari rambuku hingga menetes ke baju putih biruku. Aku nggak bisa melawan. Aku kini ada di WC perempuan. Apalagi ini jam terakhir. Nggak ada yang akan bisa menolongku sampai bel pulang berbunyi.

“Maksud lo apa?” bentakku menantang. Aku nggak terima di guyur kayak gini.

“Belum kapok di guyur kayak gini?” balas cewek tersebut sambil menjambak rambutku. “Vin, mana fanta jeruk yang tadi?” ucap cewek itu lagi, tangan kanannya masih menjambak rambutku. Vina langsung memberi satu botol fanta jeruk yang sudah terbuka.

“Lo mau gue siram lagi?” tanya cewek itu lagi.

Halo??!! Nggak usah ditanya pun, orang bego juga tau. Mana ada orang yang secara sukarela mau berbasah ria dengan fanta stroberry atau pun jeruk? Teriakku dalam hati. Aku tau kalau cewek di depanku ini bernama Pelli. Pelli terkenal sesaentro sekolah karena keganasannya dalam hal melabrak orang. Yeah, dari pada ngelawan terus sekarat masuk rumah sakit, mending Aku diem aja. Aku juga tau kalo Pelli satu kelas dengan Iqbal. Wait, wait.. Iqbal??? Jangan-jangan dia biang keladinya. Awas lo Bal, sampe gue tau lo biang keroknya. Gue bakal ngamuk entar di kelas lo!

“Gue rasa, gue nggak ada masalah ama lo.” teriakku sambil mendorong Pelli dengan sadisnya. Aku benar-benar nggak tahan sama perlakuan mereka. Bodo amat gue masuk rumah sakit. Yang jelas ni nenek lampir perlu dikasi pelajaran.

Kedua teman Pelli, Vina dan Ayu dengan sigap mencoba menahanku. Tapi Aku malah memberontak. “Buruan Pelli, ntar kita ketahuan.” kata Ayu si cewek sawo mateng.

Selang beberapa detik, Pelli kembali mengguyurku dengan fanta jeruk. “Jauhin Iqbal. Gue tau lo berdua temenan dari awal masuk SMP! Dulu lo pernah nolak Iqbal. Tapi kenapa lo sekarang nggak mau ngelepas Iqbal?!!”

“Maksud lo?” ledekku sinis. “Gue nggak kenal kalian semua. Asal lo tau gue nggak ada apa-apa ama Iqbal. Lo nggak liat kerjaan gue ama tuh cowok sinting cuma berantem?”

Plaakk.. Tamparan mulus mendarat di pipiku. “Tapi lo seneng kan?” teriak Pelli tepat disebelah kupingku. Kesabaranku akhirnya sampai di level terbawah.

Buuugg! Tonjokanku mengenai tepat di hidung Pelli. Pelli yang marah makin meledak. Perang dunia pun tak terelakan. Tiga banding satu. Jelas Aku kalah. Tak perlu lama, Aku sudah jatuh terduduk lemas. Rambutku sudah basah dan sakit karena dijambak, pipiku sakit kena tamparan. Kepalaku terasa pening.

“Beraninya cuma keroyokan!” bentak seorang cowok dengan tegas. Serempak trio geng labrak menoleh untuk melihat orang itu, Aku juga ingin, tapi tertutup oleh Pelli. Dari suaranya Aku sudah tau. Tapi Aku nggak tau bener apa salah.

“Pergi lo semua. Sebelum gue laporin.” ujar cowok itu singkat. Samar-samar Aku melihat geng labrak pergi dengan buru-buru. Lalu cowok tadi menghampiriku dan membantuku untuk berdiri. “Lo nggak apa-apa kan, Nes?”

“Nggak apa-apa dari hongkong!?”
***

Hujan rintik-rintik membasahi bumi. Aku dan Iqbal berada di ruang UKS. Aku membaringkan diri di tempat tidur yang tersedia di UKS. Iqbal memegangi sapu tangan dingin yang diletakkan di sekitar pipiku. Aku lemas luar biasa. Kalau Aku masih punya tenaga, Aku nggak bakalan mau tangan Iqbal nyentuh pipiku sendiri. Tapi karena terpaksa. Mau gimana lagi.

“Ntar lo pulang gimana?” tanya Iqbal polos.

“Nggak gimana-mana. Pulang ya pulang.” jawabku jutek. Rasanya Aku makin benci sama yang namanya Iqbal. Gara-gara Iqbal diriku dilabrak hidup-hidup. Tapi kalau Iqbal nggak datang. Mungkin Aku bakal pingsan duluan sebelum ditemukan.

“Tadi itu cewek lo ya?” ucapku dengan wajah jengkel.

“Nggak.”
 
“Trus kok dia malah ngelabrak gue? Isi nyuruh jauhin lo segala. Emang dia siapa? “ rutukku kesal seribu kesal. Ups! Kok gue ngomong kayak gue nggak mau jauh-jauh ama Iqbal. Aduuuhh…

Iqbal sejenak tersenyum. “Dia tuh cewek yang gue tolak. Jadi dia tau semuanya tentang gue dan termasuk tentang lo” ucap Iqbal sambil menunjukku.

Aku diam. Aku nggak tau harus ngapain setelah Iqbal menunjukku. Padahal cuma nunjuk. “Ntar bisa pulang sendiri kan?” tanya Iqbal.
 
“Bisalah. Emang lo mau nganter gue pulang?”
 
“Emang lo kira gue udah lupa sama rumah lo? Jangan kira lo nolak gue terus gue depresi terus lupaen segala sesuatu tentang diri lo. Gue masih paham bener tentang diri lo. Malah perasaan gue masi sama kayak dulu.” jelas Iqbal sejelas-selasnya. Iqbal pikir sekarang udah saatnya ngungkapin unek-uneknya.
“Lo ngomong kayak gitu lagi, gue tonjok jidat lo!” ancamku. Nih orang emang sinting. Gue baru kena musibah yang bikin kepala puyeng, malah dikasi obrolan yang makin puyeng.
 
“Perasaan gue masih kayak dulu, belum berubah sedikit pun. Asal lo tau, gue selalu cari gara-gara ama lo itu ada maksudnya. Gue nggak pengen kita musuhan, diem-dieman, atau apalah. Pas lo nolak gue, gue nggak terima. Tapi seiring berjalannya waktu, kita dapet sekolah yang sama. Gue coba buat nerima. Tapi nggak tau kenapa lo malah diemin gue. Akhirnya gue kesel, dan tanpa sadar gue malah ngajakin lo berantem.” Sejenak Iqbal menanrik nafas. “Lo mau nggak jadi pacar gue? Apapun jawabannya gue terima.”
 
Hening sejenak diantara kami berdua. “Kayaknya gue pulang duluan deh.” Ucapku sambil buru-buru mengambil tasku. Inilah kebiasaanku, selalu mengelak selalu menghindar pada realita.Aku bener-bener nggak tau harus ngapaen. Dulu Aku nolak Iqbal karena Bella juga suka Iqbal. Tapi sekarang?

“Besok gue udah nggak sekolah disini. Gue pindah sekolah.” Iqbal berbicara tepat saat Aku sudah berada di ambang pintu UKS.

Aku diam tak sanggup berkata-kata. Kulangkahkan kakiku pergi meninggalkan UKS. Meninggalkan Iqbal yang termenung sendiri.
***

Kelas masih sepi. Hanya ada beberapa murid yang baru datang. Kulirik bangku sebelah. Bella belum datang. Aku sendiri tumben datang pagi. Biasanya aku datang 10 menit sebelum bel, disaat kelas sudah padat akan penduduk. Semalam Aku nggak bisa tidur. Entah kenapa bayangan Iqbal selalu terbesit di benakku. Apa benar Iqbal pindah sekolah? Kenapa harus pindah? Peduli amat Iqbal mau pindah apa nggak, batinku. “Argggg… Kenapa sih gue mikir dia terus?”

“Mikirin Iqbal maksud lo?” ucap Bella tiba-tiba udah ada disampingku. “Nih hadiah dari pangeran lo.” Kulihat Bella mengeluarkan sepucuk surat.  Karena penasaran dengan cepat Aku membuka surat tersebut. Isi nya ada gambar pelangi. Terdapat sebuah kertas. Dengan segera kubaca surat tersebut.
Dear Agnes,
Inget ga pertama kali kita kenalan? Pas itu lo nangis gara-gara di gangguin sama anak cowok. Dalam hati gue ketawa, kok ada sih cewek cengeng kayak gini? Hehe.. kidding. Lo dulu pernah bilang pengen liat pelangi tapi ga pernah kesampaian. Semoga lo seneng sama pelangi yang ada di surat ini. Mungkin gue ga bisa nunjukin pelangi saat ini coz gue harus ikut ortu yang pindah tugas. Tapi suatu hari nanti gue bakal nunjukin ke lo gimana indahnya pelangi. Tunggu gue dua tahun lagi. Saat waktu itu tiba, ga ada alasan buat lo ga mau jadi pacar gue.

“Kenapa lo nggak mau nerima dia? Gue tau lo suka Iqbal tapi lo nggak mau nyakitin gue.” sejenak Bella tersenyum. “Percaya deh, sekarang gue udah nggak ada rasa sama Iqbal. Dia cuma temen kecil gue dan nggak akan lebih.”

“Thanks Bel. Lo emang sahabat terbaik gue.” ucapku tulus. “Tapi gue tetap pada prinsip gue.”
Bella terlihat menerawang. “Jujur, waktu gue tau Iqbal suka sama lo dan cuma nganggep gue sebagai temen kecilnya. Gue pengen teriak sama semua orang, kenapa dunia nggak adil sama gue. Tapi seiring berjalannya waktu gue sadar kalo nggak semua yang kita inginkan adalah yang terbaik untuk kita.” senyum kembali menghiasi wajah mungilnya. “Dan lo harus janji sama gue kalo lo bakal jujur tentang persaan lo sama Iqbal. Janji?” lanjut Bella sambil mengangkat jari kelingkingnya.

Ingin rasanya Aku menolak. Bella terlalu baik bagiku. Aku sendiri tau sampai saat ini Bella belum sepenuhnya melupakan Iqbal. Tapi Aku juga tak ingin mengecewakan Bella. Berlahan kuangkat jari kelingkingku.

“Janji..” gumamku lirih.

Monday, April 8, 2013

5 Gejala Kalau Anda Sedang di-PHP Pria

Jaman sekarang, susah sekali mempercayai seseorang begitu saja. Semakin modern, tantangan dalam hubungan cinta pun makin ‘mutakhir’ Sebut saja TTM, LDR hingga PHP.
Apakah Anda sekarang sedang didekati atau mendekati pria namun merasa ada yang janggal dengan hubungan Anda bersamanya? Pssstt.. Mungkin dia sudah mulai memberikan harapan palsu pada Anda. Cek di sini gejalanya.
1. Awalnya meyakinkan, tapi jarang direalisasikan
Salah satu ciri orang yang memberi harapan palsu tentu saja membuat kita merasa yakin di awal. Memberikan kata-kata manis tapi kemudian? Miris, dia jarang sekali menepati janjinya.
2. Sering datang dan pergi sesuka hati
Apakah dia sering tiba-tiba menghubungi Anda tapi lalu tiba-tiba menghilang? Wah, kalau dia datang dan pergi sesuka hati, sepertinya dia tidak serius dengan Anda, Tak perlu mengharapkan apa-apa darinya, Ladies.
3. Bisa membatalkan janji di menit terakhir
Mungkin kita bisa curiga kenapa dia selalu membatalkan janji di menit terakhir. Namun bila kita mau positif thinking, bila ia membatalkan di menit terakhir dan sering, sepertinya Anda bukan yang prioritas baginya, Ladies.
4. Sikap yang cepat berubah
Lho, perasaan baru tadi dia ketawa-ketiwi, kenapa sekarang dia seperti menjauh ya? Well, salah satu indikasi pria PHP memang seringkali berubah-ubah. Namanya aja pemberi harapan palsu, tak ada yang bisa diharapkan deh, Ladies. Yang perlu Anda garis bawahi adalah mengamati, apakah sikapnya berbeda saat bersama Anda dengan saat dia bersama teman-temannya?
5. Tidak ada indikasi mengenai jenjang hubungan
Sudah berapa lama Anda berhubungan dengan si dia? Apakah ada sinyal-sinyal akan berlanjut ke babak berikutnya? Biasanya sih, pria PHP terlalu lama menggantung Anda, bahkan bisa-bisa Anda pindah ke lain hati. Dan saat Anda sudah move on, baru deh si dia kembali membayang-bayangi Anda. Beware, Ladies.

5 Kesalahan Utama Saat Pacaran Jarak Jauh

Long distance relationship(LDR) atau pacaran jarak jauh memiliki tantangan yang lebih besar dibandingkan pasangan yang tinggal satu kota. Walaupun penuh tantangan, hubungan pacaran jarak jauh bisa berjalan baik dan langgeng bila terhindar dari kesalahan-kesalahan ini.
Tidak Menceritakan Kehidupan Anda
Anda dan dia terpisah jarak yang jauh, ketidakhadirannya kadang membuat Anda merasa seperti jomblo. Tapi ingat ladies, Anda masih punya pasangan yang ingin tahu bagaimana kehidupan Anda. Anda masih bisa curhat dengannya, Anda bisa memberitahukan kabar baik apapun padanya, apapun yang ingin Anda bagi masih bisa dilakukan walaupun dia berada jauh di sana. Yang harus diingat adalah waktu yang tepat untuk curhat dengannya. Jangan memaksa dia mendengar curhat Anda di tengah jam kerja atau kuliah.
Banyak Mengeluh
Yang ini berbeda dengan curhat, mengeluh di sini adalah mengeluh mengenai sulitnya pacaran jarak jauh yang sedang dilalui. Memang, pacaran jarak jauh akan menyita pikiran dan tenaga, tetapi jika Anda terus membahasnya dengan pasangan, dia akan capek dengan keluhan tersebut. Ini juga menandakan Anda sebenarnya belum siap melakukan pacaran jarak jauh. Berpikir positif dan sabar dibutuhkan jika Anda ingin hubungan jarak jauh ini berhasil.
Tidak Ada Komunikasi
Tiba-tiba menghilang dan kurangnya komunikasi adalah kesalahan yang sangat besar. Bayangkan jika dia tiba-tiba tidak memberi kabar dalam waktu yang lama, Anda pasti bertanya-tanya ada apa, begitu juga sebaliknya. Komunikasi yang rutin adalah hal utama yang bisa membuat hubungan jarak jauh berhasil. Komunikasi pendek dalam pesan singkat seperti "Aku baru membuat puding strawberry. Kalau kamu pulang, aku buatkan spesial untuk kamu :)" akan terasa manis dan membuat pertemuan dengannya terasa lebih hangat.
Cemburu dan Menuduh Selingkuh
Cemburu itu tandanya cinta, tapi jika cemburu sudah kelewatan apalagi menuduh selingkuh setiap saat, itu akan membuat si dia jengkel dengan sikap Anda. Sedikit-sedikit curiga, sebentar-sebentar meneleponnya hanya untuk tanya "Sedang ngapain, di mana, dengan siapa?" juga akan membuat si dia capek. Daripada terus bertanya dengan nada curiga, lebih baik katakan, "Lagi nonton bareng teman kantor ya? Selamat bersenang-senang, salam untuk mereka!". Ini akan membuat dia lebih nyaman dan menunjukkan Anda percaya padanya.
Selingkuh
Selingkuh adalah kesalahan paling besar saat menjalani pacaran jarak jauh. Rasa sepi karena ketidakhadiran pasangan sering membuat seseorang terpancing dan jatuh cinta (lagi) saat mendapat perhatian dari orang lain. Jatuh cinta (lagi) sering tidak memandang status seseorang yang sudah punya pasangan, hal ini dipermudah karena si dia jauh dari Anda, kesempatan selingkuh makin besar. Tapi ingat ladies, apapun alasannya, selingkuh adalah kecurangan yang menghancurkan komitmen dan masa depan hubungan asmara Anda.
Jika Anda dan si dia berhasil menjauhkan kesalahan-kesalahan ini, pacaran jarak jauh bisa berhasil dan seawet pasangan yang pacaran jarak dekat. Good luck!

6 Tips Agar Selalu Disayang Pacar

Setiap wanita pasti ingin disayang dan diperhatikan kekasih tercinta. Tapi perhatian itu tidak datang dengan sendirinya tanpa usaha. Jika Anda ingin si dia selalu sayang dan menjadikan Anda sebagai the only one, jangan lakukan hal-hal ini:
Membandingkan Dengan Pria Lain
Anda pasti tidak suka jika dia membanding-bandingkan Anda dengan wanita lain. Maka jangan lakukan hal yang sama pada si dia. Pria paling tidak suka dibandingkan dengan pria lain, apalagi jika Anda terlalu membangga-banggakan pria lain tersebut setiap saat.
Sering Menyalahkan Dia
Bentrokan komunikasi pasti terjadi dalam sebuah hubungan. Jika hal ini sampai terjadi, jangan selalu menaikkan emosi lalu menyalahkan dia. Sekalipun memang dia yang salah, tidak perlu berteriak di depannya, apalagi sampai mengungkit-ungkit kesalahan dia yang sebenarnya sudah selesai dan tidak perlu dibahas.
Posesif dan Curiga
Cemburu tandanya cinta, tapi jika Anda terlalu posesif dan curiga pada setiap kegiatan yang dia lakukan, hal itu hanya akan membuatnya merasa tertekan dan terkurung dalam genggaman Anda. Belajarlah untuk percaya pada pria yang Anda cintai, dia akan senang jika Anda membiarkannya hang out bersama teman-teman atau membiarkan dia main game sepanjang hari.
Tidak Mau Mendengarkan dan Keras Kepala
Jangan karena Anda wanita, Anda membuat kekasih Anda dalam posisi 'kamu yang harus mengalah!' setiap saat, ini akan membuat Anda jadi perempuan keras kepala yang tidak mau mendengar kata-katanya. Hargai kehadirannya dengan mau mendengar kata-katanya, entah itu sekedar saran agar Anda tidak terlambat makan atau saat dia memberi nasihat tertentu. Pria paling tidak suka disela saat sedang berbicara.
Sering Marah dan Mengeluh
Kehujanan sedikit mengeluh, dia terlambat karena ban sepedanya bocor Anda mengeluh sepanjang jalan, rok kotor sedikit mengeluh dan marah, aduh.. pria mana yang tahan dengan wanita seperti ini? Buatlah setiap momen menjadi hal yang menyenangkan bersamanya, rok yang kotor masih bisa dicuci. Jangan sia-siakan hidup yang menyenangkan ini dengan keluhan dan marah.
Terlalu Tergantung
Okelah Anda dan dia adalah sepasang kekasih yang tidak terpisahkan. Di mana ada dia, disitu ada Anda. Tapi tidak semua kegiatan harus dihadiri Anda dan dia bukan? Anda punya kehidupan sendiri, dia juga. Jadi buatlah waktu-waktu tertentu dimana Anda menikmati kehidupan tanpanya dan jangan terlalu menggantungkan hidup pada kehadirannya.
Punya tips lain agar pacar makin sayang? Silakan bagi pengalaman Anda di kolom komentar.